Seminggu telah berlalu sejak Dinar menerima email Asta.
Tapi setelah itu Asta tidak mengirim email lagi. Tapi kali ini Dinar tidak uring-uringan lagi karena dia tahu kalau Asta sedang sibuk.
Hari minggu, masih pagi dan turun hujan pula!
Dinar yang sudah punya rencana bareng teman-temannya (Lily, Desy, dan Asty) mau pergi ke water park [kek anak kecil ye? :D] dengan amat sangat terpaksa membatalkan rencana mereka.
Akhirnya Dinar hanya di rumah saja, bareng adeknya, Bintang yang masih berumur 3 tahun, dan mba Fitri, baby sitternya Bintang, serta mbok inah, pembantu keluarga. Sementara Ayahnya sedang tugas ke luar kota dan Ibunya sedang nemenin tante Cella, adik ibu Dinar yg baru melahirkan.
Sebenarnya Dinar sedikit bete karena harus di rumah saja! Bareng Bintang, yang meskipun menggemaskan tapi bandel, dan suka mengekor ke mana pun Dinar melangkah.
Dan Dinar pun memutuskan untuk diam di kamarnya saja. Sesekali Bintang menyusulnya, dan Dinar langsung meminta mba Fitri untuk membawanya maen di ruang keluarga dengan alasan dia lagi sibuk ngerjain tugas! (hagh! Ngeles dia, padahal lagi ngecek email, salah satu kegiatan wajib Dinar)
Instrument 'Kiss The Rain'nya Yiruma mengalun di ponsel Dinar, Lily menelponnya. Segera Dinar menekan tombol yes.
"Hai!" teriak Dinar
"Salam dulu napa Din?" protes Lily dari seberang sana.
"hehehe, maaf buuu. Assalamualaikum........" Dinar menggaruk kepalanya yang seratus sepuluh persen nggak gatel.
"Waalaikumsalam" jawab Lily dengan riang.
"Eh Din, gw ma anak-anak maen ke rumah lo aja ya!" lanjut Lily
"Silahkan saja, pintu rumah ortu gw selalu terbuka lebar buat kalian" Ucap Dinar girang, akhirnya ia ada yang nemenin juga.
"Ya, udah. Lo tunggu aja di rumah. Ni gw masi nunggu Desy ma Asty. See you" tuuuuuuuuuuth.......belum sempat Dinar menjawab, Lily sudah mematikan telponnya.
Dinar langsung lari ke dapur, minta mbok Inah nyiapin minuman. Untung hujan mulai reda, jadi Dinar bisa pergi ke mini market yang ada di dekat rumahnya untuk beli cemilan.
Dan di saat akan keluar itulah, Bintang melihat Dinar dan merengek untuk ikut. Jadinya Dinar pergi ke mini market bareng Bintang dan mba Fitri.
Dinar menggandeng adiknya itu, diikuti mba Fitri.
"Aduh mb Dinar, jalannya jangan cepet-cepet. Kasian itu adek Bintangnya mba" teriak mba Fitri yang tertinggal di belakang Dinar dan Bintang.
"Ye mba Fitri, itu kamu yg jalannya mirip keong. Bintang malah lari-lari nih" jawab Dinar sambil ngikik liat mba Fitri yang lari tergopoh-gopoh menyusul mereka.
Sampai di mini market Dinar langsung dipalak es krim 2 kotak oleh adiknya, Bintang.
"Aduh dek, jangan banyak-banyak. Uang kakak nanti habis" keluh Dinar saat meliha Bintang mengambil 2 kotak es krim dibantu oleh mba Fitri.
"Kayo uang kakah habist nyanti minta mamah yagi" seru Bintang.
Dasar anak kelewat cerdas, baru 3 tahun tapi udah pinter ngeles, keluh Dinar dalam hati.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa Dinar menuruti keinginan adiknya.
Pulang dari mini market, Dinar melihat yaris merah milik Desy sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Ada teman-teman kak Dinay" teriak Bintang sambil berlari masuk ke rumah begitu melihat mobil Desy. Bintang memang hapal betul dengan Lily, Desy, dan Asty.
Dan paling lengket sama Desy karena sering dibawain jajan kalo Desy main ke rumah Dinar.
Memang Desy sangat senang sama Bintang, karena dia anak tunggal. Dan kalo Dinar berbuat semena-mena terhadap Bintang, Desy langsung memarahi Dinar.
"Lo tu mesti bersyukur Din, punya adek kayak Bintang" adalah kata yang selalu diucapkan Desy ketika melihat Dinar mulai berbuat jahil terhadap Bintang.
"Kaaaak Deciiiiii" teriak Bintang menghambur ke pelukan Desy, padahal mulutnya belepotan es krim coklat.
"Eh Bintang, wah masih makan es krim. Hmmm.....baju kakak jadi coklat ya" ucap Desy halus, ketika melihat atasannya yang berwarna putih belepotan es krim.
"Maaf ya kak Deciiii" ucap Bintang dengan nada sedih yang membuat siapa pun yang suka anak kecil pasti ingin mencubit pipinya saking gemasnya.
"Kamu pake baju gw aja dulu Des. Sana nyari sendiri di lemari gw" ucap Dinar.
"Pasti" jawab Desy sambil beranjak menuju kamar Dinar. Sementara Bintang sudah diajak mba Fitri untuk mandi karena tubuhnya penuh lelehan es krim.
"Life is beautiful, if We're grateful. Life is fun, if We don't complain. Life would be so mean, if We want to fight"
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Senin, November 15, 2010
Kamis, Mei 06, 2010
Miss Dinar part 2
Pukul 13.00
Dinar keluar kelas, meski hari ini bukan kuliah kesukaannya, tetapi Dinar menjalaninya dengan ikhlas (ga biasanya).
Hal ini tentu karena ia baru menapatkan balasan email dari 'heart'nya dia, Asta.
"Dinar!" sebuah suara datang dari arah belakang Dinar, tapi ia tidak menoleh. Dinar hafal betul suara sahabat-sahabatnya. Lily yang lembut namun tegas, Desy mendayu, dan Vita yang cempreng. Kali ini Vita yang memanggil, makanya Dinar jalam mulu, karena kebiasaan, dia hobi menggoda Vita, temannya yang berambut lurus sebahu.
"Ikh, sebel gue sama loe Din! Selalu aja kalo dipanggil, maen jalan ajah!" sungut Vita ketika sudah berhasil menyusul Dinar.
"Apa??? Loe kalo manyun tambah cantik deh, mirip ikan terompet, hihihi" goda Dinar
"Elo tu ketawanya mirip mak lampir!" bales Vita
"Gue bukan mak lampir lagi, tapi kuntilanak, mana ada mak lampir secantik gue" Dinar narsis.
"Ampun deeeh, narsisnya minta ampun ni anak" Desy dan Lily yang berhasil menyusul mereka (Dinar+Vita) berbarengan ngejitak kepala Dinar.
"Aduh, jangan jitak pala gue! Ini aset berharga tau!" Dinar mengusap kepalanya yang dijitak.
"Hallah! Lebay......." Vita menimpali
lalu beberapa detik kemudian dibarengi derai tawa mereka berempat.
-
Seperti biasa, setelah pulang kuliah, empat sekawan ini (Dinar, Lily, Desy, Vita) selalu makan bersama di kedai kaki lima yang ada di pinggir alun-alun kota.
Tibalah mereka di tempat favorit mereka, kedai es campur mang Ali.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka berempat mengobrol, ngobrol apa saja, bahkan diselingi rumpi-rumpi yang nggak penting (cewek banget ya......^_^)
Tapi obrolan siang itu kebanyakan seputar kembalinya Dinar seperti biasanya.
Dinar yang cerewet, rame, dan sedikit usil.
(sebenernya sih ga sedikit, tapi banget!)
"Gue seneng banget loe udah kembali ke jalan yang benar Din" celetuk Vita sambil asik menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
"Yeee,,, apaan ni, emang kemaren gue tersesat ke jalan yang salah apa!" kini Dinar asik mengaduk-aduk es telernya.
"Idih ni anak nggak ada nyadar-nyadarnya ya!" Desy menimpali
"Sadar nggak sebulan belakangan ini Loe udah bikin kita-kita kewalahan" sambung Desy.
"Iya, emang. Tapi syukurlah sekarang Miss Dinar udah dapat jalan yang terang" Lily yang dari tadi asik mengunyah roti bakar akhirnya angkat bicara juga.
"Iya deh, maap-maap" Dinar nyengir.
Waktu siang mereka terasa cepat berlalu, ternyata sudah hampi jam 15.30!
Akhirnya mereka pun kembali ke kediaman masing-masing.
Malam harinya, pukul 20.00 WIB, di rumah Dinar.
Ponsel Dinar menjerit, membuat Dinar yang sedang asik menekuri novel terkaget.
Ketika melihat tulisan 'Mi Amo' di layar ponselnya muka kaget Dinar berubah menjadi girang bukan maen.
'Asta' ucap dinar dalam hati.
"Hallo" ucap Dinar mengawali obrolan lintas negara itu :D
"Hi, how are you dear?" terdengar suara yang sangat dirindukan Dinar
"I'm fine. You?"
"me too. Aku rindu kamu" kata suara di seberang sana
"aku ju......."
"aku tau, di setiap email kau mengatakannya" potong Asta.
Dinar tersenyum
"Kau tersenyum? Aku ingin sekali melihatnya" lanjut Asta
"Kalau begitu ke sini" jawab Dinar.
"untuk saat ini belum bisa. Tapi, minggu depan mungkiiin..........." terdengar nada gembira di seberang sana.
"really???" Dinar kaget saking senengnya, rasa rindu akut terhadap kekasihnya akan segera terobati.
"Yah, daddy telah mengijinkanku berlibur, ini karena usahaku yang keras membantu beliau di perusahaan"
"I'll be waiting" ucap Dinar pendek
"Tidak sabar rasanya untuk bertemu Miss Dinar-ku" Asta bersemangat,
satu jam sudah mereka ngobrol via telepon,
"Di situ sudah malam, tidurlah" bujuk Asta
"baru pukul 9 malem kok, nggak masalah" hindar Dinar, ia masih ingin bicara banyak dengan Asta (lupa, soal biaya)
"Nanti jam 5 aku ada meeting, aku juga harus mempersiapkannya, kalo berantakan, aku tidak jadi liburan nanti" bujuk Asta
"Baiklah" akhirnya Dinar menyerah.
"selamat malam, have a nice dream. Aku mencintaimu" ucap Asta sebelum mengakhiri telepon
"Seperti aku mencintaimu" Lalu Dinar menutup telpon.
Sepertinya malam ini Dinar akan tidur nyenyak.
-
Dinar keluar kelas, meski hari ini bukan kuliah kesukaannya, tetapi Dinar menjalaninya dengan ikhlas (ga biasanya).
Hal ini tentu karena ia baru menapatkan balasan email dari 'heart'nya dia, Asta.
"Dinar!" sebuah suara datang dari arah belakang Dinar, tapi ia tidak menoleh. Dinar hafal betul suara sahabat-sahabatnya. Lily yang lembut namun tegas, Desy mendayu, dan Vita yang cempreng. Kali ini Vita yang memanggil, makanya Dinar jalam mulu, karena kebiasaan, dia hobi menggoda Vita, temannya yang berambut lurus sebahu.
"Ikh, sebel gue sama loe Din! Selalu aja kalo dipanggil, maen jalan ajah!" sungut Vita ketika sudah berhasil menyusul Dinar.
"Apa??? Loe kalo manyun tambah cantik deh, mirip ikan terompet, hihihi" goda Dinar
"Elo tu ketawanya mirip mak lampir!" bales Vita
"Gue bukan mak lampir lagi, tapi kuntilanak, mana ada mak lampir secantik gue" Dinar narsis.
"Ampun deeeh, narsisnya minta ampun ni anak" Desy dan Lily yang berhasil menyusul mereka (Dinar+Vita) berbarengan ngejitak kepala Dinar.
"Aduh, jangan jitak pala gue! Ini aset berharga tau!" Dinar mengusap kepalanya yang dijitak.
"Hallah! Lebay......." Vita menimpali
lalu beberapa detik kemudian dibarengi derai tawa mereka berempat.
-
Seperti biasa, setelah pulang kuliah, empat sekawan ini (Dinar, Lily, Desy, Vita) selalu makan bersama di kedai kaki lima yang ada di pinggir alun-alun kota.
Tibalah mereka di tempat favorit mereka, kedai es campur mang Ali.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka berempat mengobrol, ngobrol apa saja, bahkan diselingi rumpi-rumpi yang nggak penting (cewek banget ya......^_^)
Tapi obrolan siang itu kebanyakan seputar kembalinya Dinar seperti biasanya.
Dinar yang cerewet, rame, dan sedikit usil.
(sebenernya sih ga sedikit, tapi banget!)
"Gue seneng banget loe udah kembali ke jalan yang benar Din" celetuk Vita sambil asik menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
"Yeee,,, apaan ni, emang kemaren gue tersesat ke jalan yang salah apa!" kini Dinar asik mengaduk-aduk es telernya.
"Idih ni anak nggak ada nyadar-nyadarnya ya!" Desy menimpali
"Sadar nggak sebulan belakangan ini Loe udah bikin kita-kita kewalahan" sambung Desy.
"Iya, emang. Tapi syukurlah sekarang Miss Dinar udah dapat jalan yang terang" Lily yang dari tadi asik mengunyah roti bakar akhirnya angkat bicara juga.
"Iya deh, maap-maap" Dinar nyengir.
Waktu siang mereka terasa cepat berlalu, ternyata sudah hampi jam 15.30!
Akhirnya mereka pun kembali ke kediaman masing-masing.
Malam harinya, pukul 20.00 WIB, di rumah Dinar.
Ponsel Dinar menjerit, membuat Dinar yang sedang asik menekuri novel terkaget.
Ketika melihat tulisan 'Mi Amo' di layar ponselnya muka kaget Dinar berubah menjadi girang bukan maen.
'Asta' ucap dinar dalam hati.
"Hallo" ucap Dinar mengawali obrolan lintas negara itu :D
"Hi, how are you dear?" terdengar suara yang sangat dirindukan Dinar
"I'm fine. You?"
"me too. Aku rindu kamu" kata suara di seberang sana
"aku ju......."
"aku tau, di setiap email kau mengatakannya" potong Asta.
Dinar tersenyum
"Kau tersenyum? Aku ingin sekali melihatnya" lanjut Asta
"Kalau begitu ke sini" jawab Dinar.
"untuk saat ini belum bisa. Tapi, minggu depan mungkiiin..........." terdengar nada gembira di seberang sana.
"really???" Dinar kaget saking senengnya, rasa rindu akut terhadap kekasihnya akan segera terobati.
"Yah, daddy telah mengijinkanku berlibur, ini karena usahaku yang keras membantu beliau di perusahaan"
"I'll be waiting" ucap Dinar pendek
"Tidak sabar rasanya untuk bertemu Miss Dinar-ku" Asta bersemangat,
satu jam sudah mereka ngobrol via telepon,
"Di situ sudah malam, tidurlah" bujuk Asta
"baru pukul 9 malem kok, nggak masalah" hindar Dinar, ia masih ingin bicara banyak dengan Asta (lupa, soal biaya)
"Nanti jam 5 aku ada meeting, aku juga harus mempersiapkannya, kalo berantakan, aku tidak jadi liburan nanti" bujuk Asta
"Baiklah" akhirnya Dinar menyerah.
"selamat malam, have a nice dream. Aku mencintaimu" ucap Asta sebelum mengakhiri telepon
"Seperti aku mencintaimu" Lalu Dinar menutup telpon.
Sepertinya malam ini Dinar akan tidur nyenyak.
-
Selasa, April 27, 2010
Miss Dinar
-
Hari ini saia bener-bener lagi sebel!!, sebel sesebel-sebelnya.
Sampai rasanya pengen ngunyah-ngunyah orang.
Liat aja nanti, kalo dia sampe ga bales emailku lagi. Aku bakal pergi dari hidupnya buat selama-lamanya
Titik
-
Beberapa hari ini Dinar memang lagi uring-uringan.
Kemarin saja, adiknya- Bintang- jadi sasaran kemarahannya seharian.
Dan hari ini, giliran laptopnya yang dapat giliran.
Puluhan kali Dinar membuka dan menutupnya, belum lagi ketika dia menekan tut-tut keyboardnya tanpa perasaan.
Seakan tidak cukup sampai disitu, beberapa hari belakangan ini wajah cantiknya menjadi semakin kusut karena keseringan manyun.
Akibatnya, teman-temannya (vita, desy, dan lily) jadi kerepotan karena harus terus menjaga mood Dinar agar tetap bagus.
Mereka bahkan telah menetapkan satu kata yang 'tabu' jika diucapkan sampai terdengar telinga Dinar yang lagi sensitif bila mendengar kata 'tabu' tersebut:
ASTA,
ya Asta, kata- lebih tepatnya sebuah nama- yang bila disebut di dekat telinga Dinar, pasti akan langsung memicu sisi liarnya, menjadi marah dan tak terkendali.
Julian Prasta Aquiro, cowok blesteran jawa-spanyol, yang bukan lain adalah cowok Dinar-sejak SMA kelas 1 sampai sekarang Dinar kuliah semester 4- yang lebih memilih menjalani hubungan long distance dengan Dinar karena harus mengikuti keluarganya yang kembali ke Barcelona.
Sudah hampir dua tahun mereka menjalani hubungan jarak jauh, awalnya semua masih terasa sama, tapi akhir-akhir ini Dinar jadi bete karena tak satupun email yang dikirimnya sebulan belakangan mendapat respon dari sang pujaan hati. Akibatnya, dia jadi sering uring-uringan. Mau telpon ga bisa, mahal.
Pagi ini, masih dengan tampang kusut Dinar berangkat ke kampus. Mengendarai motor matiknya, menembus jalanan kota yang rame bukan main dengan segala jenis kendaraan.
Sesampainya di kampus, Dinar langsung mencari lokasi ternyaman.
Di bawah sebuah pohon yang berada di depan fakultasnya, fakultas sastra.
Dia membuka laptopnya, dan mengecek email (tetep ya......... ",)
Ketika sedang asyik mengutak-atik laptopnya, Lily-sahabatnya yang berkaca mata- datang dan mengagetkannya.
"Woiiii!" teriak Lily dari belakang Dinar.
"Eh aduh!!!!" teriak Dinar saking kagetnya.
"Sialan loe! Masih pagi udah bikin orang jantungan aja!" sambung Dinar.
"Ah segitunya, ga apa-apa lagi! Buktinya loe masih sehat dan ngecek email dari........." Lily tidak melanjutkan kata-katanya ketika sadar ia hampir mengucapkan kata 'tabu' itu.
"Apaa?!!!" bentak Dinar sambil melotot.
"Nggak kok........." elak Lily sambil nyengir.
"Elo mau bilang apa tadi? Ngaku!" paksa Dinar, tapi kini ada nada sedikit menggoda.
"Ikh elo ya Din, bikin gue takut aja. Tapi,,,,,,, beneran nih gue boleh bilang.........."
"Apa? Lo mau bilang 'dari Asta' kan Lil?" potong Dinar
"Wah jadi nggak apa-apa ya? Tumben, ada apa neng?" tanya Lily yang heran melihat reaksi Dinar.
Dinar hanya menjawab dengan senyuman, dan mengarahkan laptopnya pada Lily.
Dan di sanalah, di inbox email Dinar, terdapat sebuah tulisan,
sebuah email:
-
Dear My Lovely Dinar,
Miss Dinarku, yang kelak akan menjadi Miss Asta Aquiro :)
I'm so sorry,
Lo siento mucho.
I can't respons your email.
My Dinar,
tenang, tarik napas, :)
aku masih di sini.
Aku tidak ingin kau pergi dari hidupku. Jangankan untuk selama-lamanya, untuk satu detik pun aku tidak akan mengizinkan.
Jadi, please jangan pernah berpikiran seperti itu lagi.
Maaf, sebulan ini aku benar-benar sibuk. Sekarang aku sudah mulai membantu Daddy di perusahaan beliau.
Kami sedang menangani big tander. Do'akan saja ya supaya kami berhasil dan aku bisa segera berlibur. Dan aku bisa ke Indonesia, to see you.
Sekarang tenang ya, aku pasti akan merespon email kamu. Tapi tidak setiap hari.
Oke, baik-baik ya kamu di sana.
Te quiero siempre
Love U Always
-Asta-
-
"Ouw, ouw, ouw jadi ini yang membuat Miss Dinar jadi full of happiness?" Lily mencicit.
"hehehe, ayo kita ke kelas" Dinar menarik lengan Lily.
"Yakin mau masuk nih, hari ini kuliah Mr. Barner loh" goda Lily
"Biar saja lah, mumpung hari ini moodku sedang baik. Tapi, mana Vita dan Desy?" tanya Dinar ketika menyadari dua sahabatnya yang lain tidak ada.
"Mereka sudah ke kelas terlebih dulu, tau kan untuk sekedar jaga-jaga" Lily nyengir kuda
"Benarkah? Apakah aku separah itu? Ouh, jahatnya aku" mimik muka Dinar dibuat semenyesal mungkin, tetapi gagal total.
Sedetik kemudian, mereka berdu'a pun tertawa, dan pergi meninggalkan taman.
Hari ini saia bener-bener lagi sebel!!, sebel sesebel-sebelnya.
Sampai rasanya pengen ngunyah-ngunyah orang.
Liat aja nanti, kalo dia sampe ga bales emailku lagi. Aku bakal pergi dari hidupnya buat selama-lamanya
Titik
-
Beberapa hari ini Dinar memang lagi uring-uringan.
Kemarin saja, adiknya- Bintang- jadi sasaran kemarahannya seharian.
Dan hari ini, giliran laptopnya yang dapat giliran.
Puluhan kali Dinar membuka dan menutupnya, belum lagi ketika dia menekan tut-tut keyboardnya tanpa perasaan.
Seakan tidak cukup sampai disitu, beberapa hari belakangan ini wajah cantiknya menjadi semakin kusut karena keseringan manyun.
Akibatnya, teman-temannya (vita, desy, dan lily) jadi kerepotan karena harus terus menjaga mood Dinar agar tetap bagus.
Mereka bahkan telah menetapkan satu kata yang 'tabu' jika diucapkan sampai terdengar telinga Dinar yang lagi sensitif bila mendengar kata 'tabu' tersebut:
ASTA,
ya Asta, kata- lebih tepatnya sebuah nama- yang bila disebut di dekat telinga Dinar, pasti akan langsung memicu sisi liarnya, menjadi marah dan tak terkendali.
Julian Prasta Aquiro, cowok blesteran jawa-spanyol, yang bukan lain adalah cowok Dinar-sejak SMA kelas 1 sampai sekarang Dinar kuliah semester 4- yang lebih memilih menjalani hubungan long distance dengan Dinar karena harus mengikuti keluarganya yang kembali ke Barcelona.
Sudah hampir dua tahun mereka menjalani hubungan jarak jauh, awalnya semua masih terasa sama, tapi akhir-akhir ini Dinar jadi bete karena tak satupun email yang dikirimnya sebulan belakangan mendapat respon dari sang pujaan hati. Akibatnya, dia jadi sering uring-uringan. Mau telpon ga bisa, mahal.
Pagi ini, masih dengan tampang kusut Dinar berangkat ke kampus. Mengendarai motor matiknya, menembus jalanan kota yang rame bukan main dengan segala jenis kendaraan.
Sesampainya di kampus, Dinar langsung mencari lokasi ternyaman.
Di bawah sebuah pohon yang berada di depan fakultasnya, fakultas sastra.
Dia membuka laptopnya, dan mengecek email (tetep ya......... ",)
Ketika sedang asyik mengutak-atik laptopnya, Lily-sahabatnya yang berkaca mata- datang dan mengagetkannya.
"Woiiii!" teriak Lily dari belakang Dinar.
"Eh aduh!!!!" teriak Dinar saking kagetnya.
"Sialan loe! Masih pagi udah bikin orang jantungan aja!" sambung Dinar.
"Ah segitunya, ga apa-apa lagi! Buktinya loe masih sehat dan ngecek email dari........." Lily tidak melanjutkan kata-katanya ketika sadar ia hampir mengucapkan kata 'tabu' itu.
"Apaa?!!!" bentak Dinar sambil melotot.
"Nggak kok........." elak Lily sambil nyengir.
"Elo mau bilang apa tadi? Ngaku!" paksa Dinar, tapi kini ada nada sedikit menggoda.
"Ikh elo ya Din, bikin gue takut aja. Tapi,,,,,,, beneran nih gue boleh bilang.........."
"Apa? Lo mau bilang 'dari Asta' kan Lil?" potong Dinar
"Wah jadi nggak apa-apa ya? Tumben, ada apa neng?" tanya Lily yang heran melihat reaksi Dinar.
Dinar hanya menjawab dengan senyuman, dan mengarahkan laptopnya pada Lily.
Dan di sanalah, di inbox email Dinar, terdapat sebuah tulisan,
sebuah email:
-
Dear My Lovely Dinar,
Miss Dinarku, yang kelak akan menjadi Miss Asta Aquiro :)
I'm so sorry,
Lo siento mucho.
I can't respons your email.
My Dinar,
tenang, tarik napas, :)
aku masih di sini.
Aku tidak ingin kau pergi dari hidupku. Jangankan untuk selama-lamanya, untuk satu detik pun aku tidak akan mengizinkan.
Jadi, please jangan pernah berpikiran seperti itu lagi.
Maaf, sebulan ini aku benar-benar sibuk. Sekarang aku sudah mulai membantu Daddy di perusahaan beliau.
Kami sedang menangani big tander. Do'akan saja ya supaya kami berhasil dan aku bisa segera berlibur. Dan aku bisa ke Indonesia, to see you.
Sekarang tenang ya, aku pasti akan merespon email kamu. Tapi tidak setiap hari.
Oke, baik-baik ya kamu di sana.
Te quiero siempre
Love U Always
-Asta-
-
"Ouw, ouw, ouw jadi ini yang membuat Miss Dinar jadi full of happiness?" Lily mencicit.
"hehehe, ayo kita ke kelas" Dinar menarik lengan Lily.
"Yakin mau masuk nih, hari ini kuliah Mr. Barner loh" goda Lily
"Biar saja lah, mumpung hari ini moodku sedang baik. Tapi, mana Vita dan Desy?" tanya Dinar ketika menyadari dua sahabatnya yang lain tidak ada.
"Mereka sudah ke kelas terlebih dulu, tau kan untuk sekedar jaga-jaga" Lily nyengir kuda
"Benarkah? Apakah aku separah itu? Ouh, jahatnya aku" mimik muka Dinar dibuat semenyesal mungkin, tetapi gagal total.
Sedetik kemudian, mereka berdu'a pun tertawa, dan pergi meninggalkan taman.
Rabu, Februari 03, 2010
Jika Aku Sebuah Bintang [ part 2 ]
"Stop, stop mas Tio!" teriak aku dari kursi pembonceng.
"Apaan dek?" dengan kesal mas Tio menghentikan vespanya karena aku yang tiba-tiba menjerit.
"Beli coklatnya SEKARANG! Kalo nanti-nanti mas Tio bisa lupa" aku menunjuk sebuah mini market di sebelah kiri kami, ternyata kami berhenti tepat di depannya, hahahaha 'ini rencanaku'.
"Ah kamu ini, nanti saja, di depan kampus mas juga ada. Ini sudah siang dek"
"SE-KA-RANG!!! Jangan lupa coklatnya DUA biji!" aku tekankan setiap katanya.
"Iya, iya cerewet. Maunya coklat apa?" meski kesel tapi mas Tio turun juga dari vespanya.
"Toblerone satu, cadbury satu, yang gedhe, awas kalo belinya yang kecil"
Mas Tio pun masuk ke dalam mini market. Tidak lama setelah itu, mas Tio keluar dengan sebungkus plastik berisi coklat dan menyerahkannya padaku.
"Nih" mas Tio menyodorkan plastik tersebut ke aku.
"Terima kasih" dengan senyum sumringah aku menerimanya, lalu kumasukkan ke dalam tas gendongku.
Aku sudah sampe di depan sekolahku, SMA Permata Bangsa.
Aku turun dari boncengan vespa mas Tio. Kulepas helm, lalu kuserahkan pada mas Tio.
Kulirik arlojiku, pukul 6.45. 'ah masih pagi' pikirku
"Woi Lin, jangan lupa setelah pulang sekolah kamu musti bantuin aku di galeri!" teriak mas Tio dari luar gerbang.
Sementara aku hanya ngangguk sambil berlari menuju kelasku.
Suasana kelasku ternyata sudah ramai, kelasku ada di gedung C, tiga gedung dari gerbang utama, kelasku ini menghadap lapangan basket, jadi lumayang sambil belajar bisa cuci mata, hahahaha.
"ZAaaaa!" Icha, teman sebangkuku menyambut kedatanganku yang baru sampai di ambang pintu dengan suaranya yang tinggi melengking.
Aku melewati keremunan beberapa anak perempuan yang berkumpul di dekat pintu masuk kelasku.
"PERMISI, PERMISI" sahutku.
Kuletakkan tasku di meja.
"Eh Za, nanti sore ada pertandingan basket lho. Nonto yuk?" Icha menyeretku untuk duduk.
"Hah, nggak bisa. Aku sudah keburu janji mau bantuin mas Tio di galeri setelah pulang sekolah" ada sedikit perasaan menyesal di hatiku, hiks.
"Lho, mas Arif maen juga lho. Yakin nggak nyesel???" Icha mendorong-dorong lembut bahuku.
"Ah, nggak tau deh. Aku sudah terlanjur menerima upah buat bantuin mas Tio"
"Upah?"
"Iya, upah. Dua biji coklat, ini ada di tasku" aku menunjuk kantong paling depan tasku, tempat dimana coklat itu kuletakkan.
"Wah, wah, wah, enak tuh. Bagi-bagi dong" Icha langsung membuka tasku
"Enak aja! Nggak boleh! Itu kan upah aku. Kalo kamu mau minta, kamu juga harus ikut bantuin mas Tio"
"Pelit amat Zaza Lintang nih! Huhg" tapi tetep aja Icha ngambil satu buah coklat, dan membukanya. Lalu menggigit ujungnya.
"Ah coklatkuuuuuu" telat sudah responku, coklatku sudah terlanjur dimakan Icha, yaaah.......
'kriiiiiiing' bel masuk berbunyi, itu mengurungkan niatku untuk menjitak kepala Icha,
pelajaran pertama: MATEMATIKA! Pelajaran paling aku benci, menyebalkan, dan palin aku tidak bisa. Seandainya otak pandai dalam urusan hitung-menghitung, pastilah aku tidak sebenci ini dengan pelajaran yang satu itu. Selain itu, gurunya juga lumayan killer, 'apa perasaan aku saja ya, gara-gara nggak bisa pelajarannya?'
tiga jam pelajaran matematika kulalui dengan terkantuk-kantuk. Untunglah hari ini aku selamat dari vonis harus maju ke depan, mengerjakan soal.
Akhirnya bel istirahat berbunyi juga, 'aku selamat' pikirku.
Kurapikan buku-buku di mejaku, lalu kumasukkan ke laci.
Aku bergegas lari ke kantin sambil menggigit coklatku yang satunya, ternyata, tadi selama jam pelajaran Icha diam-diam menghabiskan coklatku yang telah diambil secara paksa olehnya.
Icha, dan dua orang temanku lainnya, Dhela dan Rio, mengikuti di belakangku.
"Za, tunggu!" panggil Rio, iya berjalan setengah berlari.
"mmm, apa?"
"cepat banget jalanmu, tapi pagi nggak sarapan ya??"
"Sarapan kok, cuma sekarang lapar lagi. Semua energiku telah terkuras habis saat pelajaran matematika tadi"
"Ah, kamu ngantuk juga pas pelajaran. Jadi otakmu nggak bekerja maksimal" Rio mengacak-ngacak rambutku.
"wueeeeeek" aku menjulurkan lidah, dan berlari ke arah kantin yang sudah ada di depanku.
Aku dan Rio sudah sampai duluan, di susul Icha dan Dhela. Kami berempat duduk di tempat favorit kami, meja di bawah pohon jambu aer, hehe
adem banget tempatnya.
Aku berlari masuk ke kantin, mengambil makananku, bakso dan segelas es jeruk sepertinya cukup. Diikuti teman-temanku.
Aku mulai memakan makananku, kepedasan aku meneguk es jerukku. Oh tidak, aku hampir tersedak, rasanya panas tenggorokanku.
"kalo ngasih sambel jangan banyak-banyak" ucap Rio sambil menyodorkan kotak tisu padaku.
"Arghhh, tenggorokanku seperti terbakar" aku minum habis semua es jerukku, tapi tetap saja rasa terbakar itu tidak hilang.
"Aku ambilkan air putih" ucap Dhela dengan nada panik, tak lama kemudian Dhela datang dan menyodorkanku segelas air putih hangat.
Aku meminumnya sekaligus, rasa sakit ditenggorokanku mula reda.
Legaaa
[to be continued]
"Apaan dek?" dengan kesal mas Tio menghentikan vespanya karena aku yang tiba-tiba menjerit.
"Beli coklatnya SEKARANG! Kalo nanti-nanti mas Tio bisa lupa" aku menunjuk sebuah mini market di sebelah kiri kami, ternyata kami berhenti tepat di depannya, hahahaha 'ini rencanaku'.
"Ah kamu ini, nanti saja, di depan kampus mas juga ada. Ini sudah siang dek"
"SE-KA-RANG!!! Jangan lupa coklatnya DUA biji!" aku tekankan setiap katanya.
"Iya, iya cerewet. Maunya coklat apa?" meski kesel tapi mas Tio turun juga dari vespanya.
"Toblerone satu, cadbury satu, yang gedhe, awas kalo belinya yang kecil"
Mas Tio pun masuk ke dalam mini market. Tidak lama setelah itu, mas Tio keluar dengan sebungkus plastik berisi coklat dan menyerahkannya padaku.
"Nih" mas Tio menyodorkan plastik tersebut ke aku.
"Terima kasih" dengan senyum sumringah aku menerimanya, lalu kumasukkan ke dalam tas gendongku.
Aku sudah sampe di depan sekolahku, SMA Permata Bangsa.
Aku turun dari boncengan vespa mas Tio. Kulepas helm, lalu kuserahkan pada mas Tio.
Kulirik arlojiku, pukul 6.45. 'ah masih pagi' pikirku
"Woi Lin, jangan lupa setelah pulang sekolah kamu musti bantuin aku di galeri!" teriak mas Tio dari luar gerbang.
Sementara aku hanya ngangguk sambil berlari menuju kelasku.
Suasana kelasku ternyata sudah ramai, kelasku ada di gedung C, tiga gedung dari gerbang utama, kelasku ini menghadap lapangan basket, jadi lumayang sambil belajar bisa cuci mata, hahahaha.
"ZAaaaa!" Icha, teman sebangkuku menyambut kedatanganku yang baru sampai di ambang pintu dengan suaranya yang tinggi melengking.
Aku melewati keremunan beberapa anak perempuan yang berkumpul di dekat pintu masuk kelasku.
"PERMISI, PERMISI" sahutku.
Kuletakkan tasku di meja.
"Eh Za, nanti sore ada pertandingan basket lho. Nonto yuk?" Icha menyeretku untuk duduk.
"Hah, nggak bisa. Aku sudah keburu janji mau bantuin mas Tio di galeri setelah pulang sekolah" ada sedikit perasaan menyesal di hatiku, hiks.
"Lho, mas Arif maen juga lho. Yakin nggak nyesel???" Icha mendorong-dorong lembut bahuku.
"Ah, nggak tau deh. Aku sudah terlanjur menerima upah buat bantuin mas Tio"
"Upah?"
"Iya, upah. Dua biji coklat, ini ada di tasku" aku menunjuk kantong paling depan tasku, tempat dimana coklat itu kuletakkan.
"Wah, wah, wah, enak tuh. Bagi-bagi dong" Icha langsung membuka tasku
"Enak aja! Nggak boleh! Itu kan upah aku. Kalo kamu mau minta, kamu juga harus ikut bantuin mas Tio"
"Pelit amat Zaza Lintang nih! Huhg" tapi tetep aja Icha ngambil satu buah coklat, dan membukanya. Lalu menggigit ujungnya.
"Ah coklatkuuuuuu" telat sudah responku, coklatku sudah terlanjur dimakan Icha, yaaah.......
'kriiiiiiing' bel masuk berbunyi, itu mengurungkan niatku untuk menjitak kepala Icha,
pelajaran pertama: MATEMATIKA! Pelajaran paling aku benci, menyebalkan, dan palin aku tidak bisa. Seandainya otak pandai dalam urusan hitung-menghitung, pastilah aku tidak sebenci ini dengan pelajaran yang satu itu. Selain itu, gurunya juga lumayan killer, 'apa perasaan aku saja ya, gara-gara nggak bisa pelajarannya?'
tiga jam pelajaran matematika kulalui dengan terkantuk-kantuk. Untunglah hari ini aku selamat dari vonis harus maju ke depan, mengerjakan soal.
Akhirnya bel istirahat berbunyi juga, 'aku selamat' pikirku.
Kurapikan buku-buku di mejaku, lalu kumasukkan ke laci.
Aku bergegas lari ke kantin sambil menggigit coklatku yang satunya, ternyata, tadi selama jam pelajaran Icha diam-diam menghabiskan coklatku yang telah diambil secara paksa olehnya.
Icha, dan dua orang temanku lainnya, Dhela dan Rio, mengikuti di belakangku.
"Za, tunggu!" panggil Rio, iya berjalan setengah berlari.
"mmm, apa?"
"cepat banget jalanmu, tapi pagi nggak sarapan ya??"
"Sarapan kok, cuma sekarang lapar lagi. Semua energiku telah terkuras habis saat pelajaran matematika tadi"
"Ah, kamu ngantuk juga pas pelajaran. Jadi otakmu nggak bekerja maksimal" Rio mengacak-ngacak rambutku.
"wueeeeeek" aku menjulurkan lidah, dan berlari ke arah kantin yang sudah ada di depanku.
Aku dan Rio sudah sampai duluan, di susul Icha dan Dhela. Kami berempat duduk di tempat favorit kami, meja di bawah pohon jambu aer, hehe
adem banget tempatnya.
Aku berlari masuk ke kantin, mengambil makananku, bakso dan segelas es jeruk sepertinya cukup. Diikuti teman-temanku.
Aku mulai memakan makananku, kepedasan aku meneguk es jerukku. Oh tidak, aku hampir tersedak, rasanya panas tenggorokanku.
"kalo ngasih sambel jangan banyak-banyak" ucap Rio sambil menyodorkan kotak tisu padaku.
"Arghhh, tenggorokanku seperti terbakar" aku minum habis semua es jerukku, tapi tetap saja rasa terbakar itu tidak hilang.
"Aku ambilkan air putih" ucap Dhela dengan nada panik, tak lama kemudian Dhela datang dan menyodorkanku segelas air putih hangat.
Aku meminumnya sekaligus, rasa sakit ditenggorokanku mula reda.
Legaaa
[to be continued]
Jika Aku Sebuah Bintang [part 1]
Namaku Firza Lintang Prameswari, biasa dipanggil Zaza oleh teman-teman, dan Lintang oleh keluarga. Umur 16 tahun. Bungsu dari tiga bersaudara. Kakak sulungku, Iqbal Hadi Prasetya, atau Iqkho, kalo aku sih manggilnya mas Pras. Umur 22 tahun, seorang web master di sebuah perusahaan web developer. Orangnya ganteng, tapi nyebelin! It's my opinion. Perfect banget karena kakak pertamaku ini orang pinter.
Kakakku yang kedua, Karya Ade Prasetya, ato Arya, aku manggilnya mas tio, seorang penggila seni dan jago nulis. Umur 18 tahun, dia seorang mahasiswa semester tiga di sebuah universitas swasta di kotaku, fakultas Seni dan Ilmu Budaya. Dia pengin seperti Picaso, pelukis favoritnya.
Dua kakakku memiliki bakat yang luar biasa di bidang masing-masin. Sementara aku? Aku bukan seorang yang hi-tek ataupun pecinta karya seni. Aku berbeda dengan kedua kakakku, aku hanyalah aku, satu-satunya kelebihan yang kupunya adalah bersikap ceria. Ya, ceria dalam suasana semencekam apapun.
Bapakku, seorang petani sayur. Dan ibuku, dia seorang super mom. Yang selalu ada untuk keluarga.
"Lin, bangun ndok. Sudah subuh ini." sayup-sayup terdengar suara ibuku membangunkanku.
"Masih ngantuk bu" kutarik lagi selimutku hingga menutupi kepala
"Owalah nduk, nanti kamu dimarahi bapakmu. Ayo cepet bangun, trus sholat subuh. Apa minta masmu yang bangunin? Ancam ibu, karena aku tidak bereaksi.
Mendengar ancaman ibu yang mengatakan 'masmu' aku langsung bangun dan duduk.
"Jangan bu, ini aku bangun. Mas pras kalo bangunin aku galak bu" masih ngantuk kupaksa turun dari ranjang
"Ya wis, cepet sholat dulu, jangan lupa rapiin tu kamarmu, Ibu ndak mau rapiin, wong kamu sudah gede. Terus kamu mandi, siap-siap ke sekolah." ibuku pergi, sepertinya ke dapur. Seperti biasa, setiap pagi ibu dibantu mbok Min, menyiapkan sarapan untuk keluarga.
Pukul 06.00 aku selesai siap-siap, tinggal sarapan.
Aku pergi di ruang makan, di sana sudah ada bapak, yang seperti biasa membaca koran paginya sambil sesekali menyeruput kopi. Mas Pras, yang selalu dengan laptopnya, dan juga Mas Tio yang selalu makan pisang goreng.
Aku sampai di kursiku, kutarik dan aku duduk. Lalu kuteguk segelas besar coklat hangat di depanku.
"Hari ini ladang Bapak panen ya?" tanyaku sambil mengunyah pisang goreng.
"Iya, kamu mau ikut ke ladang?" bapak menurunkan korannya dan beralih duduk di sebelahku.
"kalau aku diijinkan bolos sih mau pak, haha" kuteguk lagi coklatku.
"Jangan harap" jawab bapak sambil mengacak rambutku, lalu kembali ke kursinya.
"Ah Bapak! Susah ini menata rambutnya, jadi berantakan lagi" aku memberenggut.
"Dek, nanti ikut bantuin mas Tio ya di galeri, mau nggak?" mas Tio yang dari tadi asik mengunyah pisang goreng akhirnya bersuara.
"Ada imbalannya nggak?" jawabku tak acuh.
"Nanti tak beliin coklat deh satu. Mau ya?" rayu mas Tio
"Hah, satu biji doang mah aku bisa beli sendiri! Tiga biji, gimana mau ga?" aku mengajukan tawaran.
"Maruk deh kamu dek, dua saja ya, ya?" mas Tio mengajakku bernegosiasi.
"Oke, tapi nanti aku diantar sampe gerbang sekolah, deal?" tawarku lagi.
"Deal!" jawab mas Tio, dan kami berjabat tangan.
"Adoh mba Lintang, itu coklat satu gelas besar kok ya dihabiskan dulu, wong mbanya belum sarapan" teriak mbok Min, yang membawa lauk dari dapur di susul oleh ibu.
"hehe, tadi kan dingin banget mbok, ya dihabisin jadinya. Mana telur ceplok punya Lintang mbok?" tanyaku pada mbok Min.
"Ini mba." mbok Min menyodorkan piring berisi telur untukku.
"Terima kasih" jawabku, kini aku mulai sarapan pagiku.
Setelah selesai sarapan, aku pamit ke Bapak, Ibu, mas Pras, dan mbok Min, lalu berangkat ke sekolah diboncen mas Tio pake motor vespanya.
Akan seperti apakah hariku kali ini..............????
[to be continued]
Kakakku yang kedua, Karya Ade Prasetya, ato Arya, aku manggilnya mas tio, seorang penggila seni dan jago nulis. Umur 18 tahun, dia seorang mahasiswa semester tiga di sebuah universitas swasta di kotaku, fakultas Seni dan Ilmu Budaya. Dia pengin seperti Picaso, pelukis favoritnya.
Dua kakakku memiliki bakat yang luar biasa di bidang masing-masin. Sementara aku? Aku bukan seorang yang hi-tek ataupun pecinta karya seni. Aku berbeda dengan kedua kakakku, aku hanyalah aku, satu-satunya kelebihan yang kupunya adalah bersikap ceria. Ya, ceria dalam suasana semencekam apapun.
Bapakku, seorang petani sayur. Dan ibuku, dia seorang super mom. Yang selalu ada untuk keluarga.
"Lin, bangun ndok. Sudah subuh ini." sayup-sayup terdengar suara ibuku membangunkanku.
"Masih ngantuk bu" kutarik lagi selimutku hingga menutupi kepala
"Owalah nduk, nanti kamu dimarahi bapakmu. Ayo cepet bangun, trus sholat subuh. Apa minta masmu yang bangunin? Ancam ibu, karena aku tidak bereaksi.
Mendengar ancaman ibu yang mengatakan 'masmu' aku langsung bangun dan duduk.
"Jangan bu, ini aku bangun. Mas pras kalo bangunin aku galak bu" masih ngantuk kupaksa turun dari ranjang
"Ya wis, cepet sholat dulu, jangan lupa rapiin tu kamarmu, Ibu ndak mau rapiin, wong kamu sudah gede. Terus kamu mandi, siap-siap ke sekolah." ibuku pergi, sepertinya ke dapur. Seperti biasa, setiap pagi ibu dibantu mbok Min, menyiapkan sarapan untuk keluarga.
Pukul 06.00 aku selesai siap-siap, tinggal sarapan.
Aku pergi di ruang makan, di sana sudah ada bapak, yang seperti biasa membaca koran paginya sambil sesekali menyeruput kopi. Mas Pras, yang selalu dengan laptopnya, dan juga Mas Tio yang selalu makan pisang goreng.
Aku sampai di kursiku, kutarik dan aku duduk. Lalu kuteguk segelas besar coklat hangat di depanku.
"Hari ini ladang Bapak panen ya?" tanyaku sambil mengunyah pisang goreng.
"Iya, kamu mau ikut ke ladang?" bapak menurunkan korannya dan beralih duduk di sebelahku.
"kalau aku diijinkan bolos sih mau pak, haha" kuteguk lagi coklatku.
"Jangan harap" jawab bapak sambil mengacak rambutku, lalu kembali ke kursinya.
"Ah Bapak! Susah ini menata rambutnya, jadi berantakan lagi" aku memberenggut.
"Dek, nanti ikut bantuin mas Tio ya di galeri, mau nggak?" mas Tio yang dari tadi asik mengunyah pisang goreng akhirnya bersuara.
"Ada imbalannya nggak?" jawabku tak acuh.
"Nanti tak beliin coklat deh satu. Mau ya?" rayu mas Tio
"Hah, satu biji doang mah aku bisa beli sendiri! Tiga biji, gimana mau ga?" aku mengajukan tawaran.
"Maruk deh kamu dek, dua saja ya, ya?" mas Tio mengajakku bernegosiasi.
"Oke, tapi nanti aku diantar sampe gerbang sekolah, deal?" tawarku lagi.
"Deal!" jawab mas Tio, dan kami berjabat tangan.
"Adoh mba Lintang, itu coklat satu gelas besar kok ya dihabiskan dulu, wong mbanya belum sarapan" teriak mbok Min, yang membawa lauk dari dapur di susul oleh ibu.
"hehe, tadi kan dingin banget mbok, ya dihabisin jadinya. Mana telur ceplok punya Lintang mbok?" tanyaku pada mbok Min.
"Ini mba." mbok Min menyodorkan piring berisi telur untukku.
"Terima kasih" jawabku, kini aku mulai sarapan pagiku.
Setelah selesai sarapan, aku pamit ke Bapak, Ibu, mas Pras, dan mbok Min, lalu berangkat ke sekolah diboncen mas Tio pake motor vespanya.
Akan seperti apakah hariku kali ini..............????
[to be continued]
Langganan:
Postingan (Atom)